Super Wife

•June 29, 2007 • 1 Comment

Posting ini di tujukan kepada istri gw.

Gw sekarang lagi pindahan dari Bukit Panjang ke Tampines.  Istri gw yang lagi hamil 5 bulan dengan sigep nya bersih2 dari pagi.  Trus waktu gw pulang, gw bongkar2 lemari orang yg kaga di pake lagi jadi kayu2 bekas.  Dan istri gw dengan perut gedenya ikut bantuin gw bawa2 kayu itu dari lantai 6 ke lantai 1.  Berkat bantuannya, semua cepet selesai.  Udah gitu  masih sempetnya buang2 sampah.

Makasi yah, Sayang.  Ayang emang super wife.

•April 27, 2007 • 1 Comment

You are Superman

Superman
80%
Green Lantern
75%
Catwoman
75%
Spider-Man
60%
The Flash
55%
Supergirl
50%
Robin
50%
Hulk
50%
Batman
30%
Iron Man
25%
Wonder Woman
10%
You are mild-mannered, good,
strong and you love to help others.


Click here to take the Superhero Personality Quiz


You are Magneto



































Magneto
55%
Apocalypse
53%
Venom
50%
Juggernaut
50%
Dr. Doom
49%
The Joker
48%
Mr. Freeze
43%
Kingpin
42%
Lex Luthor
39%
Riddler
35%
Catwoman
34%
Green Goblin
34%
Two-Face
30%
Dark Phoenix
29%
Poison Ivy
25%
Mystique
18%
You fear the persecution of those that are different or underprivileged so much that you are willing to fight and hurt others for your cause.


Click here to take the Super Villain Personality Test

Closure

•February 25, 2007 • 1 Comment

Closure

There are three emotional stages when someone faces a disaster. The first one is denial. Next one is anger. And finally, it’s acceptance. However, I’d like to add one more which is closure.

My father left me and my family on Friday, January 13th, 1995, at around 10 pm. He left my mom, my three sisters, me and my brother.

On that fateful evening, my aunt’s family came to our house with the news that my dad was involved in a train accident. I woke up, half confused when they took us in their car to their house. My uncle had a conversation with my mom and she broke down in tears. My youngest sister who wasn’t even 1 year old cried as well in my mom’s arms.

My brother, my two other sisters and I, upon seeing mother crying, could tell that something really bad must have happened. We then fell down hugging each other in tears. We were in an extreme denial that we would never be able to see him anymore.

I have never told anyone how sad I had been. I didn’t get the chance to say good bye. I didn’t get the chance to be the good son he always wanted and I wanted to say I’m sorry. I wanted to play badminton, soccer, chess, carrom again with him. I wanted him to see how far I had gone in life. I wanted to tell him that I had been able to go to the highschool he told me about when I was still in primary school, that I managed to study abroad. Most of all, I really wanted to tell him that I managed to marry a beautiful wife. I had really missed him a lot.

For quite a long time, I was in denial. I kept imagining that he just went away on business and someday he’s going to finally come home. Since that never happened, my denial went to the second stage that I kept going to the railway station where he worked. I kept imagining that he was one of the passengers or the crews and I would see him getting off one of the cars. My denial went for quite a while that often I look at middle aged men with curly hair whose back facing me, hoping that when they turned around one of them would be him.

I had stopped waiting for him to come home. I had stopped looking at other people hoping that one of them would be my dad. I had gotten passed the anger stage because I understand that he never meant to leave us behind. I had accepted the fact that he is not in this world anymore.

I’m hoping that I would get a closure with writing this post. Our family have never really talked about the fact that he’s really gone. I have never really talked to anyone else about this sad fact which I believe had changed my life so much. I had always pitied myself because of it. I had always seen myself as a victim whenever something doesn’t go the way I expected. The time has come for me to get a closure on losing my father which means that I have to start thinking that I am my own man.

This is the hardest thing to say, and I had never really said it sincerely, but “Good bye, Dad. I love you and I miss you. Always”

Prescott, suka duka nyari hotel.

•February 18, 2007 • 2 Comments

Di Singapura lagi libur 4 hari (Sabtu - Selasa) buat Tahun Baru Cina.  Untungnya, karena Southern Star itu perusahaan animasi yang nyantai, dan semua orang lagi ahead of schedule, dengan senang hati boss kita, Jackie Chan (bukan bintang film), ngasih hari Jumat buat extra.  Pengennya sih istri tercinta yang dateng dari KL ke Singapur, tapi ternyata tiket bus udah abis.  Sebelomnya sempet bingung, kalo saya yang ke KL ntar nginep dimana; ngga enak kalo harus nginep di tempat temen2 istri di UIA.  Singkat kata, akhirnya diputuskan kalo kita nginep aja di hotel.

Dari pengalaman2 kita yang sebelumnya, nyari kamar di hotel itu gampang2 susah.  Dulu kita nyari kamar buat liburan Natal dan Taun Baru.  Udah jalan2 jauh nyari hotel yang bagus tapi ternyata semua udah penuh.  Akhirnya dapet juga satu single room di penginepan namanya De First Inn di Chow Kit, KL.  Sebelum confirm kita mo make kamar itu, receptionistnya udah memperingatkan betapa memprihatinkannya keadaan single room tersebut.  Setelah beberapa pertimbangan, termasuk salah satunya adalah kaki2 kita yang udah pegel, akhirnya kita putuskan untuk menyewa kamar tersebut.

Gitu  masuk, ternyata receptionist tadi emang ngga boong.   Kamarnya bener2 memprihatinkan.  Bayangkan lebar tempat tidurnya cuman satu meter.  Jarak dari tempat tidur ke pintu juga cuman 1.5 meter.  TV ada di pojokan dan cuman 14 inch dengan program2 yang minim. Tapi yah alhamdulillah toilet masih dalam keadaan bersih dan fungsional.  Lingkungan sekitar hotel itu sendiri sangat seram.  Waktu jalan2, kita selalu liat jam supaya ngga kemaleman di jalan.  Walopun waktu itu baru jam 9, daerah Chow Kit itu udah sangat menakutkan, lengkap dengan orang2 tua yang selalu memelototi kita sampe transverstite yang berbadan kekar, berkulit hitam dan bersuara serak.  Satu2nya nilai plus dari penginapan ini adalah receptionist yang ramah.

Pokonya ngga bakal lagi2 nginep di De First Inn.

Kali kedua, kita nginep di Selesa Inn yang terletak di daerah Sogo.  Keliatan dari luarnya, Selesa Inn ini memang agak keren.  Sebelum itu kita juga udah cek Hotel Lotus yang berlokasi ngga jauh dari Selesa Inn.  Receptionistnya ramah, dan lobby nya bersih, dan harganya juga sama dengan De First Inn.  Kamar dan tempat tidurnya jelas lebih besar dari De First Inn.  TV nya disambungkan ke Astro Cable dan sebagai pelengkap di dalam kabinet TVada Bar Fridge.  Tapi kekurangannya, kamarnya bener2 PENGAP, ngga ada ato sedikit sekali peredaran udara.  Saya dan istri sampe serak, keluar air mata gara2 debu yang ngga muter2 di dalam kamar.  Akhirnya kita setuju keluar kamar dulu dengan jendela di buka dan AC ditinggalin menyala biar kamar agak segeran waktu kita balik nantinya.  Dan memang betul waktu kita masuk lagi ke kamar itu, suasana agak lebih seger, tapi karena jendela kita buka nyamuk2 jadi masuk.

Jadi, kalo bisa, kita ngga bakal lagi2 nginep di Hotel Selesa.

Sekarang kita nginep di Hotel Prescott di daerah Sogo buat liburan imlek.  Istri dapet informasi tentang hotel ini dari temennya (thanks to memem).  So far, it’s been good.  Kamar bener2 bersih dan gedeeeee, legaaaaa, ada dua tempat tidur.   Tempat tidur yg satu bisa buat tidur, dan yang satunya lagi buat aktifitas laen seperti makan misalnya.  :D Gitu ngeliat keluar kamar, pemandangannya lumayan bagus.

Di lobby ada wireless hotspot, agak lambat sih soalnya cuman jenis B, tapi itu udah lumayan.  Dan yang paling bagus, lokasinya bener2 strategis (deket ama Sogo dan Chow Kit) dengan harga yang reasonable.  Kita ngga usah kuatir kalo jalan2 keliling malem2 atopun kemaleman di jalan karena memang lokasinya bener2 aman.

Tapi kekurangannya, kita ngga dapet sarapan,  Channel TV nya ngga ada yang bagus; bukan Cable TV,  dan receptionistnya kurang ramah. She can really use some smile.

Jadi, next time, kalo kita butuh nginep di KL, kemungkinan besar kita bakal nginep di Prescott lagi.  And that’s if we’re not able to find anything better.

Pemanfaatan

•February 8, 2007 • No Comments

Today, my ex-boss called me in.  Pertamanya, saya sempet heran kenapa dia mau nelpon saya yang dulu di “pecat” dari barisan staffnya.  Biasanya, orang yang dipecat itulah yang pengen balik.  Kepala saya langsung mikir, did he want to re-hire me to work for him again?  Or, did he want to reprimand me for something that I had left behind?  Or, did the students somehow told him that I badmouthed him behind his back?  Hehehe.

Ternyata semua dugaan saya meleset.

Setelah semua basa-basi, dan “congratulation on your marriage”, ex-boss saya itu akhirnya  ngasih tau niat dia yang sebenernya.  Perlu diketahui, sebelom saya dapet kerja yang sekarang ini sebagai Animation Programmer, saya dulu mengajar di salah satu sekolah animasi di Singapura.  Waktu itu saya juga mengajar Animation Programming.  Sebelum saya pergi dari sekolah itu, saya sempat mengumbar janji kepada murid2 saya, “If you need any help from me, just call my number”.  And that promise finally bit me back in the arse this time.

Ex-boss saya ternyata ingin saya membantu salah satu murid nya yang mengalami masalah dengan animasinya.  Setup yang sudah dia bikin, ternyata terlalu besar untuk di render (di convert ke bitmap).  Para lecturer yang ada di situ pun sudah menyerah, ndak tau gimana solusinya.  Jadi, terjadilah pemanfaatan atas diri saya ini untuk meng-optimize file si murid itu.

Saya sempet bingung juga. Di satu pihak, saya merasa keberatan memberikan skill dan pengetahuan saya secara gratis.  Tapi, di lain pihak saya juga ingat akan janji saya.  Akhirnya, karena saya tidak ingin meninggalkan kesan buruk kepada murid saya itu, dengan tulus hati dan sedikit berat hati saya memberikan bantuan. Dan itu pun ndak cukup karena waktu yg sangat sempit.  Hari Senin depan, ex-boss saya berpesan untuk datang lagi menyelesaikan bantuan saya itu.

Selama saya di sana, yang ada di kepala saya hanya keinginan untuk memberikan kesan baik kepada orang lain.  Tapi begitu saya meninggalkan tempat itu, barulah saya merasa dimanfaatkan.  I’m slow. Darn it.

Hello world!

•February 8, 2007 • 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!